Select Menu
Select Menu

Terpopuler

Event Labaik

Artikel Labaik


Agenda yang  dilaksanakan secara serentak oleh kampus-kampus di seluruh penjuru nusantara ini, diawali dengan Grand Launching yang dipelopori oleh dua puluh empat kampus di Indonesia, pada tanggal 1 Muharram 1437 H yang bertepatan pada tanggal 14 Oktober 2015.

Salah satu kampus yang meluncurkan agenda gerakan subuh berjamaah ini adalah Politeknik Negeri Jember tepatnya di masjid Al-Istiqomah. Agenda yang diadakan oleh UKM LABAIK ini di inisiasi oleh FSLDK (Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus) sebagai awal menyambut tahun baru hijiryah. 

Agenda ini dimulai dengan sholat subuh berjamaah yang dimulai jam 04.15 . Kegiatan ini mendapat antusias dari banyak mahasiswa dan mahasiswi Polije yang mengikuti sholat subuh berjamaah. Setelah sholat subuh berjamaah dilanjutkan dengan tausiyah yang diisi oleh ustad Amir Rajab.

Beliau menjelaskan dalam tausiyahnya bahwa waktu subuh adalah waktu dimana malaikat berkumpul di masjid untuk mendoakan umat nabi yang duduk untuk menunggu sholat subuh berjamaah. Dan setiap langkah menuju masjid akan menaikkan derajat dan menghapus dosanya sampai dia sampai ke masjid. 

Gerakan sholat subuh berjamaah ini jangan dijadikan hanya sebuah gerakan yang dilakukan sebulan sekali. Namun kegiatan ini harus menjadi kewajiban setiap hari seorang muslim yang harus dilaksanakan berjamaah di masjid, ujar ustad amir diakhir tausiyah.

Diakhir kegiatan, para jamaah mendonasikan infaqnya untuk saudara kita yang menjadi korban asap di Riau. Harapannya penggalangan dana ini membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena musibah di Riau.


Gerakan shalat subuh berjamaah dengan skala nasional yang bertemakan #DariMasjidKampusPeradabanBangkit ini, direncanakan akan dilaksanakan setiap bulan di masjid-masjid kampus di seluruh Indonesia. Semoga dengan adanya gerakan ini, negeri tercinta Indonesia dan seluruh masyarakatnya akan senantiasa diliputi keberkahan dan kebaikan. Diharapkan pula dari gerakan ini, negara Indonesia dapat bangkit dan hadir sebagai kontributor peradaban dunia yang baru.


#GerakanSubuhJamaahNasional
FSLDK Indonesia mempersembahkan sebuah Gerakan Awal Kebangkitan.#DariMasjidKampusUntukIndonesiaYuk disimak videonya dan bersama kita dukung gerakan ini :-)
Posted by FSLDK Indonesia on 6 Oktober 2015
Diambil dari : blog UKPM EXPLANT
sumber : http://ukpm-explant.blogspot.co.id/2015/10/perawat-seminar-dan-pelatihan-mengurus.html


[Polije-04/10/2015]- Pagi pukul 07.59 WIB, PeRaWat atau Pelatihan Para Akhwat yang diselenggarakan UKM Labaik dimulai di kelas D1 Gedung Bahasa Inggris. Agenda yang bertemakan “Seminar dan Pelatihan Mengurus Jenazah” ini mendapat kunjungan peserta putrisebanyak 45 orang, antara lain 11 orang dari delegasi HMJ dan UKM, sedang sisanya berasal dari Mahasiswi Polije, umum dan anggota Labaik sendiri.“Saya dari Ambulu mbak, kelas 3 SMA ,” ucap salah satu akhwat (baca: perempuan ) peserta Perawat. Peserta umum ini mendapat informasi dari salah satu rekannya yang berkuliah di Program Studi MIF.
Antusiasme peserta terlihat sesaat pemberian game uji konsentrasi yang dikomando melalui clue “opposite” dan “yang sebenarnya” oleh MC, dimana peserta diajak mengikuti gerakan sesuai perintah dan clue yang diberikan.
“Kok jadi saya yang senang ya,” ucap MC acara, Aniza dengan tawa. Acara dilanjutkan dengan 1 game adaptasi dari talk show ‘Eat Bulaga’ dan lantunan Al-Qur’an Surat Al-Jumu’ah ayat 6-8 oleh 2 anggota labaik. Ayat ini menjelaskan mengenai kepastian akan adanya kematian, sesuai dengan tema bahasan.
"Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu’ah ayat 8).
Sesi pematerian diberikan oleh Kholisah, SP., yang merupakan istri dari ketua jurusan PP Ir. Suwardi, MP. Ia menilai bahwa agenda perawat seperti ini bagus untuk dipraktikkan di Masyrakat. Menurutnya, kepedulian para mudi tentang merawat jenazah saat ini sangatlah minim.
“Saat ini rata-rata yang mampu mengurus jenazah hanya orang tua saja, lalu kalau tidak ada orang tua, siapa? Makanya acara seperti ini bagus agar adek-adek mampu menerapkannya di masyarakat nanti,” ucap Kholisah, SP. saat disinggung mengenai prospek Perawat.
Ketua panitia, sebut saja Nona R, berharap agar agenda-agenda khusus untuk melatih keterampilan seluruh muslimah di Polije bisa terus dilaksanakan. “Acara seperti ini bukan hanya untuk Labaik saja, semua mahasiswi bisa berpartisipasi, tidak memandang asal atau identitas, asal memiliki background muslimah. Kami hanya penyelenggara,” tuturnya.
Pada sesi praktikum, peserta dikelompokkan masing-masing 5 orang.  Tiap kelompok mempraktikkan cara pemandian dan pemakaian kafan untuk jenazah dengan menggunakan boneka. Namun sebelum itu, pemateri memberikan contoh perlakuan pada tubuh manusia dengan partisipasi peserta dan panitia.

(Galuh Dwi Saraswati)




Manakah yang mesti dipentingkan apakah dakwah ataukah amal untuk diri pribadi?
Keutamaan dakwah di antaranya disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).
Suatu kaedah yang biasa dikemukakan oleh para ulama bahwa amalan yang manfaatnya untuk orang banyak lebih didahulukan daripada yang manfaatnya untuk individu.
Ibnul Hajj pernah berkata dalam Al Madkhol,
ولاخلاف بين الأئمة في أن الخير المتعدي أفضل من الخير القاصر على المرء نفسه
“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa kebaikan yang manfaatnya bagi orang banyak lebih utama daripada kebaikan yang manfaatnya untuk diri pribadi.”

Tidak Berlaku Umum

Kaedah di atas tidak berlaku secara mutlak untuk semua hal. Az Zarkasyi menyatakan bahwa kaedah tersebut hanyalah kaedah umum. Oleh karenanya Al Haitami menyatakan dalam Tuhfatul Muhtaj, “Kaedah yang menyatakan bahwa amalan yang manfaatnnya untuk orang banyak lebih utama daripada amalan yang dampaknya untuk pribadi saja, hanyalah kaedah umum. Karena ada amalan individu yang punya keutamaan seperti iman. Iman di sini lebih utama daripada jihad.” Dan beliau menyatakan sendiri dalam Al Fatawa Al Kubro, “Umumnya, amalan yang manfaatnya pada orang banyak lebih utama daripada amalan yang manfaatnnya untuk diri pribadi.”
Ada pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah selaku mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, “Apakah seluruh amalan yang punya dampak baik pada orang banyak punya keutamaan lebih dari amalan yang manfaatnya untuk diri pribadi? Atau ada pertimbangan lain untuk menyatakan bahwa ada nilai lebih satu dan lainnya? Ataukah ada keadaan di mana amalan yang manfaatnya untuk diri pribadi lebih utama dari amalan yang dampak baiknya pada orang banyak?
Jawaban dari Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, “Masalah ini kembali pada dalil syar’i. Amalan memang ada yang punya dampak baik pada orang banyak dan ada yang dampaknya pada diri pribadi. Shalat misalnya amalan yang utama setelah dua kalimat syahadat. Padahal shalat adalah amalan yang dampaknya pada diri pribadi dan pahalanya pun untuk individu, tidak berpengaruh pada orang banyak. Zakat punya dampak pada orang banyak, namun shalat lebih utama dari zakat. Jadi sekali lagi penilaian manakah yang lebih afdhol dalam bahasan yang kita kaji dikembalikan pada dalil syar’i.” (Dinukil dari Ahlalhdeeth.Com)

Tetap Memperhatikan Amal Pribadi

Tentu pula setiap individu mesti memperhatikan amalan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga, itu lebih didahulukan. Jangan sampai sibuk memikirkan kemanfaatan pada orang banyak sampai-sampai melupakan kemanfaatan untuk diri sendiri, istri dan anak-anak. Coba perhatikan kondisi penduduk surga, Allah berfirman,
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)
Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Adz Dzariyat: 16-19).
Dalam ayat di atas disebutkan ibadah dengan sebutan ihsan (berbuat baik). Ihsan tersebut dimulai dari berbuat baik pada diri sendiri lebih dahulu dan ini disebutkan dalam dua ayat (ayat 17 dan 18) yaitu lewat amalan shalat malam dan beristighfar di waktu sahur. Baru setelah itu disebutkan dalam satu ayat bentuk ihsan dengan berbuat baik pada orang miskin. (Minhatul ‘Allam, 10: 131).
Semoga bermanfaat.

Tulisan sederhana di tengah malam, malam 2 Safar 1436 H di Darush Sholihin
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber : https://muslim.or.id/23510-mementingkan-dakwah-atau-amal-untuk-diri-pribadi.html

Waktu adalah salah satu nikmat tertinggi yang diberikan Allah kepada Manusia. Sudah sepatutnya manusia memanfaatkannya seefektif dan seefisien mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah di bumi ini. Karena pentingnya waktu ini maka Allah swt telah bersumpah pada permulaan berbagai surat dalam al-quran yang turun di mekkah dengan berbagai macam bagian dari waktu. Misalnya bersumpah demi waktu malam, demi waktu siang, demi waktu fajar, demi waktu dhuha, dan demi masa. Semisal dalam surat Al-Lail ayat 1-2, Allah berfirman:
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ﴿١﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى ﴿٢
\”Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.\”
Menurut pengertian yang popular di kalangan para mufassirin dan juga dalam perasaan kaum muslimin, apabila Allah bersumpah dengan sesuatu dari ciptaan-Nya, maka hal itu mengandung maksud agar kaum muslimin memperhatikan kepada-Nya dan agar hal tersebut mengingatkan mereka akan besarnya manfaat dan impressinya. Oleh karena itu, barang siapa terluput atau terlena dari suatu amal perbuatan pada salah satunya, maka hendaklah ia berusaha menggantikannya pada saat yang lain.
Dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, Allah berfirman yang artinya sebagai berikut.
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individu-individu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan. Setiap muslim yang memahami ayat di atas, tentu saja berupaya secara optimal mengamalkannya. Dalam kondisi kekinian dimana banyak sekali ragam aktivitas yang harus ditunaikan, ditambah pula berbagai kendala dan tantangan yang harus dihadapi.
Dalam ajaran Islam, ciri-ciri seorang muslim yang ideal adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim memiliki kewajiban untuk mengelola waktunya dengan baik. Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan ayat 62 yang berbunyi: \”Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.\”
Seorang muslim haruslah pandai untuk mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah, dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah, bertaqarrub illallah, dan menuntut ilmu-ilmu syar’i. Dalam hubungannya secara horizontal, ia menginginkan bermuamalah dengan masyarakat, mencari maisyah bagi keluarganya, menunaikan tugas dakwah di lingkungan masyarakat, maupun di tempat-tempat lainnya. Dalam sejarah Rasulullah saw. dan orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap bahwa mereka sangat memperhatikan waktu, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi. Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat seolah-olah akan mati esok hari.

Karakteristik waktu

Waktu mempunyai karakteristik khusus yang istimewa. Kita wajib mengerti secara sungguh-sungguh dan wajib mempergunakannya sesuai dengan pancaran cahayanya. Di antara karakteristik waktu adalah sebagai berikut:
a. Cepat habis. Waktu itu berjalan laksana awan dan lari bagaikan angin, baik waktu senang atau suka ria maupun saat susah atau duka cita. Apabila yang sedang dihayati itu hari-hari gembira, maka lewatnya masa itu terasa lebih cepat, sedangkan jika yang dihayati itu waktu prihatin, maka lewatnya masa-masa itu terasa lambat. Namun, pada hakikatnya tidaklah demikian, karena perasaan tersebut hanyalah perasaan orang yang sedang menghayati masa itu sendiri. Kendati umur manusia dalam kehidupan dunia ini cukup panjang, namun pada hakikatnya umur manusia hanya sebentar, selama kesudahan yang hidup itu tibalah saat kematian. Dan tatkala mati telah merenggut, maka tahun-tahun dan masa yang dihayati manusia telah selesai, hingga laksana kejapan mata yang lewat bagaikan kilat yang menyambar.\
b. Waktu yang telah habis tak akan kembali dan tak mungkin dapat diganti. Inilah ciri khas waktu dari berbagai karakteristik khusus waktu. Setiap hari yang berlalu, setiap jam yang habis dan setiap kejapan mata yang telah lewat, tidak mungkin dapat dikembalikan lagi dan tidak mungkin dapat diganti.
c. Modal terbaik bagi manusia. Oleh karena waktu sangat cepat habis, sedangkan yang telah lewat tak akan kembali dan tidak dapat diganti dengan sesuatu pun, maka waktu merupakan modal terbaik. Modal yang paling indah dan paling berharga bagi manusia. Keindahan waktu itu dapat diketahui melalui fakta bahwa waktu merupakan wadah bagi setiap amal perbuatan dan segala produktivitas. Karena itulah, maka secara realistis waktu itu merupakan modal yang sesungguhnya bagi manusia, baik secara individu (perorangan) maupun kolektif atau kelompok masyarakat.

Kiat menyikapi waktu

Kiat yang benar untuk menyikapi waktu menurut Islam, ialah pandangan yang mencakup masa lalu, masa sekarang dan masa depan secara keseluruhan. Oleh karena itu, manusia wajib melihat, mengisi, dan mempersiapkan ketiga masa tersebut.
a. Wajib melihat masa lalu. Melihat ke masa lalu, dimaksudkan untuk mengambil pelajaran dengan segala peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Menerima nasihat dengan kejadian yang dialami umat saat itu dan sunnatullah terhadapa mereka, sebab masa lalu merupakan wadah peristiwa dan khazanah pelajaran.
b. Melihat masa depan. Melihat ke masa depan memang hal wajib, sebab manusia itu sesuai dengan fitrahnya senantiasa terikat ke masa depan. Ia tak akan dapat melupakannya atau menyembunyikannya di balik kedua telinganya. Sebagaimana manusia itu diberi rezeki ingatan yang menghubungkannya dengan masa lalu dan apa yang terjadi di dalamnya, maka ia pun diberi rezeki upaya menggambarkan masa depan dan apa yang akan diharapkan.
c. Memperhatikan masa kini. Seorang mukmin berkewajiban melihat ke masa lalu untuk mengambil pelajaran, mengambil manfaat, dan mawas diri. Di samping itu, juga perlu melihat masa depan untuk mempersiapkan perbekalan. Maka, ada kewajiban untuk memperhatikan masa kini, yaitu masa di mana secara nyata kita sedang menjalani dan menghayatinya, agar kita dapat menggunakannya sebelum lepas dan tersia-sia.
Setelah kita mengenal karakteristik waktu dan kiat untuk menyikapinya, yang menjadi pertanyaan di benak kita adalah bagaimana manajemen waktu yang baik menurut Islam. Manajemen waktu untuk merencanakan, mengatur, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada haruslah memiliki landasan-landasan berikut.
1. Pengetahuan kaidah yang rinci tentang optimalisasi waktu
Setiap muslim hendaknya memahami dan mengetahui kaidah-kaidah yang rinci tentang cara mengoptimalkan waktunya. Hal ini bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan dirinya dan orang lain. Tokoh-tokoh seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, dan Imam Suyuthi adalah orang-orang yang menjadi teladan bagi orang-orang yang bisa mengoptimalkan waktu semasa hidupnya.
2. Memiliki manajemen hidup yang baik
Setiap muslim haruslah pandai mengatur segala urusan hidupnya dengan baik, menghindari kebiasaan yang tak jelas, matang dalam pertimbangan dan mempunyai perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Ia harus berpikir, membuat program, mempersiapkan, mengatur dan melaksanakannya.
3. Memiliki Wudhuhul Fikrah
Seorang muslim haruslah memiliki keluasan atau fleksibilitas dalam berpikir, seperti mampu berpikir benar sebelum bertindak, berpengetahuan luas, mampu memahami substansi pemikiran dan paham. Hal itu penting sebagai dasar pengembangan berpikir ilmiah.
4. Visioner
Seorang muslim juga harus memiliki pandangan jauh ke depan, bisa mengantisipasi berbagai persoalan yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang.
5. Melihat secara utuh setiap persoalan
Setiap orang yang dapat mengatur waktunya secara optimal, tidak melihat masalah secara parsial. Karena bisa jadi, sebuah persoalan memiliki kaitan dengan persoalan yang lainnya.
6. Mengetahui Perencanaan dan skala prioritas
Mengetahui urutan ibadah dan prioritas, serta mengklasifikasi berbagai masalah adalah faktor penting dalam mengatur waktu agar menghasilkan kerja yang optimal. Dengan membuat skala prioritas, akan menghindarkan dari ketidakteraturan kegiatan.
7. Tidak Isti’jal dalam mengerjakan sesuatu
Mengerjakan sesuatu dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil merupakan landasan yang penting dalam mewujudkan hidup yang lebih baik. Sementara, orang yang musta’jil menginginkan agar dalam waktu singkat ia mampu melakukan hal-hal yang terpuji, sekaligus meninggalkan hal-hal yang tidak terpuji. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sunah kauniyah, yaitu hukum alam dan kebiasaan.
8. Berupaya seoptimal mungkin
Jika kita menginginkan terwujudnya aktivitas amal shalih, maka secara optimal kita harus mengarahkan diri pada persoalan itu sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.
9. Spesialisasi dan pembagian pekerjaan
Setiap muslim haruslah memiliki keahlian tertentu. Ia boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ia juga perlu memfokuskan pada keahlian tertentu.

Syarat dan perencanaan menyikapi waktu

Landasan-landasan di atas hanya dapat dipenuhi, jika telah memenuhi syarat sebagai berikut.
1. Disiplin dan Pembiasaan sejak dini
Penanaman disiplin akan waktu, menghargai waktu sejak kecil merupakan hal penting. Dengan demikian, seseorang akan terbiasa untuk mengatur hidupnya secara mandiri dan optimal untuk merencanakan berbagai macam aktivitas. Disiplin terkait dengan ibadah, tidur, makan, termasuk senda gurau. Ali bin Abi Thalib mengatakan, \”Berilah istirahat hati karena kalau dipaksakan akan membabi buta.\”
2. Memiliki kecerdasan dan kejeniusan
Munculnya indikasi kecerdasan pada seseorang merupakan faktor penting untuk bisa mewujudkan hal di atas.
3. Memiliki kondisi fisik dan mental yang positif
Untuk melaksanakan manajemen waktu yang optimal, memang perlu ditunjang dengan adanya keinginan yang kuat, tindakan yang terus menerus, aktif, lapang dada, penuh optimisme, berpengetahuan luas, mampu memadukan berbagai pemikiran dan mampu mengendalikan emosi, seperti sedih, berduka dan susah, di samping memiliki budi pekerti dan akhhlak yang tinggi.
4. Memiliki ketrampilan
Pengetahuan yang luas, tanpa diiringi dengan ketrampilan hanya akan menjadi aksi yang tidak kongkret. Banyak orang yang pandai berbicara, tetapi hanya sedikit orang yang bisa bekerja dan menekuni bidang pekerjaannya.
Dalam manajemen waktu, tentunya perencanaan merupakan salah satu hal yang penting. Dalam membuat perencanaan, ada enam hal yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Niat yang Kuat
Niat sama artinya dengan motivasi yang kuat. Tanpa adanya niat, kita tidak akan pernah berhasil dalam beramal. Tahun, bulan, atau hari tidak akan pernah menjadi tahun, bulan, atau hari yang berprestasi, jika kita tidak berniat untuk mengisinya dengan amal terbaik dan niat seorang muslim adalah melakukan amal ibadah setiap waktu karena Allah swt. Jika itu yang kita lakukan, semuanya akan memiliki nilai ibadah.
2. Memiliki Tujuan yang Jelas
Tanpa adanya tujuan yang jelas, kita tidak akan fokus melangkah. Makin tidak jelas tujuan dan waktu pencapaiannya maka peluang gagalnya rencana kita akan makin besar. Dan tujuan kita melakukan amal ibadah dalam mengisi waktu-waktu kita adalah berharap ridha Allah swt.
 Pelajari pula teknik membuat rencana dan segera membuat rencana yang matang dan teruji. Buat program dalam bentuk rencana harian, mingguan, dan bulanan.
Di sini penting pula memahami skala prioritas, mana yang harus didahulukan, dan mana pula yang bisa ditunda, mana yang harus di kerjakan, mana pula yang tidak. Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam Fikih Prioritas, mengungkapkan urutan amal yang terpenting diantara yang penting. Patokannya :
 -Sangat Penting dan Sangat Mendesak dikerjakan pada urutan Pertama.
-Tidak Penting dan Sangat Mendesak dikerjakan pada urutan Kedua.
-Sangat Penting dan Tidak Mendesak dikerjakan pada urutan Ketiga.
-Tidak Penting dan Tidak mendesak dikerjakan pada urutan Keempat.
3. Buat Rencana Cadangan
Kita pun harus selalu siap dengan segala kemungkinan tak terduga. Kita merencanakan, tapi Allah yang menentukan. Karena itu, buat rencana B dan C sebagai rencana cadangan jika rencana utama mengalami kegagalan. Insya Allah kita tidak akan kehilangan waktu untuk panik.
4. Rencana atau Program Harus Realistis, Terukur, dan Adil
Hindari membuat rencana yang terlalu tinggi, tidak realistis, dan terlalu sulit dicapai. Program kita pun harus adil dan seimbang. Sebab kita harus menunaikan banyak hak, di mana setiap hak menuntut pemenuhan. Ada hak Allah, hak keluarga, dan hak akal, hak tetangga, hak badan, hak diri.
5. Disiplin dalam Rencana.
Sehebat apapun program dan rencana, tidak akan berarti sama sekali jika kita tidak disiplin melaksanakannya. Karena itu, jangan tergiur oleh kegiatan, kesenangan spontan, atau apa saja yang akan menjauhkan kita dari rencana yang telah disusun.
Selain itu, yang tak kalah penting, lawan dan kalahkan rasa malas. Tidak ada amal yang terlaksana jika kita malas. Malas adalah kendaraan setan. Malas tidak akan mendatangkan apapun, selain kerugian dan kesengsaraan. Ada satu prinsip, \”Tiada Prestasi tanpa Disiplin\”. Siapa lagi yang dapat memaksa kita untuk sukses selain diri kita sendiri.
6. Sempurnakan Setiap Kali Beramal.
Penyempurnaan adalah tahap akhir yang akan menentukan berkualitas tidak amal ibadah yang kita lakukan. Kita akan mendapatkan yang ‘terbaik’, jika melakukan yang terbaik pula. Dengan merencanakan apa yang akan kita lakukan hari ini, kita akan berjalan di hari-hari ini dengan baik. Sehingga waktu yang terlewati akan bermanfaat sebagai amal ibadah kita hari ini.
Semua itu tentu saja harus diatur secara baik, agar apa yang kita inginkan dapat terlaksana secara optimal, tanpa harus meninggalkan yang lain. Misalnya, ada orang yang lebih memfokuskan amalan-amalan untuk bertaqarrub ilallah, tanpa bermu’amalah dengan masyarakat. Ada juga yang lebih mementingkan kegiatan muamalah dengan masyarakat, tetapi mengesampingkan kegiatan amalan ruhiyahnya.
Dari perintah-perintah Allah saw. dan sejarah perjalanan hidup Rasulullah terkandung hikmah yang dalam bagaimana kita sebagai muslim harus menata waktu dengan sebaik-baiknya. Allah swt. telah menunjukkan kepada kita dengan penataan waktu shalat, perjalanan siang dan malam yang sudah tertata dengan baik dan terencana. Itu semua menjadi petunjuk bagi kita bagaimana harus menata waktu ini dengan satu perencanaan dan pelaksanaannya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dan kemudian melakukan muhasabah sesudah pelaksanaannya, yaitu evaluasi diri atas apa yang telah kita lakukan. Wallahu a’lam.
Sumber: Manajemen Waktu Islami karangan Yusuf Qardhawi
                http://gamais.itb.ac.id/manajemen-waktu-dalam-islam/

Beberapa bulan yang lalu saat saya sedang berada di tempat kerja, tiba-tiba datang seorang tamu yang kebetulan mencari salah satu staf di tempat saya kerja. Sebagai tuan rumah yang baik tentunya saya mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk ruangan saya sembari menunggu kawan yang dicarinya.
Selang beberapa saat teman yang dicari tamu tersebut datang dan kemudian mereka berjabat tangan. Sembari mengerjakan tugas kantor yang menumpuk saya menangkap arah pembicaraan mereka. Ternyata mereka adalah Guru dan Murid. Si murid begitu antusias untuk berbagi pengalaman dengan gurunya yang sekarang ada di depannya. Sebut saja si guru adalah pak Amir dan si murid adalah si Anwar. Selang beberapa saat berbicara si anwar memohon ijin untuk melakukan sholat dhuzur. Kebetulan saat itu memang sudah masuk waktu sholat dhuzur.
Usai sholat, kemudian si  Anwar masuk kembali ke ruangan Pak Amir. Pak Amir kemudian bertanya mengenai pekerjaan yang dilakukan si Anwar. Anwar menjawab �Alhamdulillah Pak, hasil usaha saya cukuplah untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak saya�. Iseng saja saya bertanya, �memang apa mas kerjanya?�. Dia menjawab �hanya usaha warnet�. Pertanyaan kemudian saya lanjutkan, �memang ga rugi mas usaha warnet di saat seperti ini?�. Dia menjawab �Alhamdulillah, rejeki sudah ada yang atur kok�. Dia menyebutkan bahwa omset warnetnya perhari tidak pernah kurang dari 100 ribu.
Jawaban yang sedikit aneh di benak saya. Bagaimana mungkin di saat banyak usaha warnet yang ada dia bisa sampai dapat omzet sampe 100 ribu?. Obrolan berhenti disini.
Saat saya memandang wajahnya, tampak bekas sebuah luka di keningnya. Kemudian saya coba bertanya mengenai luka yang ada di keningnya. Dia menjawab akibat kecelakaan yang dialaminya. Ceritanya begini.
Siang itu dia dari Surabaya hendak ke Malang karena ada suatu urusan. Sampai di daerah pandaan � Pasuruan, dia mendengar suara adzan dzuhur sudah berkumandang. Sempat dia mengucapkan kalimat �sebentar ah, nanggung, nanti sekalian sholat dzuhur di Malang. Mumpung jalanan sepi dan tidak macet�. Selang beberap menit kemudian dia mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya menabrak sepeda motor yang tiba-tiba berhenti di depannya. Akhir cerita akhirnya dia berurusan dengan pihak berwenang apalagi si korban meninggal dunia. Sempat dia mendekam di tahanan gara-gara kasus kecelakaan tadi.
Akhir cerita, untuk menyelesaikan permasalahan kecelakaan tadi dia menghabiskan dana tidak kurang dari 90 juta. Selain untuk menyantuni keluarga si korban kecelakaan, uang tersebut juga digunakan untuk menebus kendaraan yang ditahan sebagai barang bukti. Coba anda bayangkan seberapa banyak uang tersebut. Namun si anwar sangat bersyukur karena dia hanya kehilangan 90 juta.
Mendengar penuturannya saya hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian anwar melanjutkan ceritanya. Ternyata dia melakukan satu kesalahan fatal dan pada akhirnya dia mengalami kecelakaan tersebut. Gara-gara dia menunda waktu sholat dzuhur di perjalanan. Lalu saya bertanya, memang salah ya menunda waktu sholat apalagi sedang dalam perjalanan?
Anwar menjawab �Mas... jika anda memanggil anak anda satu kali kemudian anak anda datang, apakah anda senang atau marah?�. Saya menjawab �senang�. Lalu dia bertanya kembali �kalo anda memanggil anak anda tetapi si anak bilang, sebentar yah, masing sibuk neh, bagaimana perasaan anda?�. Saya jawab lagi �ya kesel mas, masak anak dipanggil bapaknya malah ngasih tempo waktu�.
Kemudian si Anwar kembali bertanya kepada saya �Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya mas?�
Saya tidak sanggup menjawab pertanyaan tersebut, karena faktanya selama saya bekerja, meskipun terdengar suara adzan, saya selalu tidak sholat tepat waktu�. Lalu saya bertanya kepada anda para pembaca..
�Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya?�
Kisah kiriman bapak Eko Agus (ekoagusdianhusada [at] gmail [dot] com)
Ilustrasi gambar: visitpasuruanhotel.blogspot.com
Sumber: http://www.ruanginspirasi.com/artikel/576/jangan-lalaikan-panggilan